Kolektor Memorabilia Kepanduan, Ayo Bentuk Komunitas!

2 Nov 2016

 Badge-badge Kontingen

Ada sejumlah nuansa yang berbeda dengan Jambore Nasional (Jamnas) X-2016 dibandingkan acara serupa sebelumnya yang diadakan oleh Gerakan Pramuka. Jamnas yang untuk kesepuluh kalinya diadakan itu, diselenggarakan di Bumi Perkemahan Pramuka Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur, 14-21 Agustus 2016. Salah satunya dari sisi penampilan badge (lambang kain yang dibordir) dan pin (lambang dari plastik atau logam) kontingen-kontingen yang hadir.

Dalam Jamnas tersebut, tercatat sekitar 25.000 peserta yang terdiri dari Pramuka Penggalang (11-15 tahun), Pembina Pendamping, Pimpinan Kontingen, dan Panitia Pelaksana, berkumpul bersama dalam perkemahan yang mengambil tema “Keren, Gembira, Asyik” itu. Mereka datang dari 34 provinsi di Indonesia, ditambah beberapa perwakilan dari Kedutaan Besar RI di luar negeri, dan sejumlah utusan kepanduan mancanegara.

Dalam Jamnas-Jamnas sebelumnya, penampilan badge dan pin kontingen, paling-paling hanya dibatasi pada badge dan pin yang memang disediakan resmi dari panitia untuk dibagikan kepada peserta, atau belakangan, beberapa daerah juga mengeluarkan badge dan pin kontingen masing-masing. Namun kali ini, bukan hanya badge dan pin dari resmi dari panitia dan dari kontingen daerah. Tidak sedikit kontingen cabang – yang berasal dari kabupaten dan kotamadya di seluruh Indonesia – juga mengeluarkan atau menerbitkan badge dan pin kontingen.

Badge Panitia

Jadilah Jamnas X-2016 menjadi Jamnas yang paling meriah dari banyaknya badge dan pin yang ada. Bagi para Pramuka yang mengikuti suatu pertemuan besar seperti Jamnas, badge dan juga pin bukan sekadar lambang yang ditempel pada jaket, topi, atau ransel mereka. Kedua benda itu juga menjadi sarana untuk mencari, memperluas, dan mempererat persahabatan dengan teman dari lain daerah bahkan dari lain negara. Caranya, dengan saling tukar-menukar badge dan pin, yang tentunya diikuti pula dengan bertegur sapa, saling memperkenalkan diri, dan saling tukar-menukar alamat dan akun media sosial masing-masing.

Bahkan bukan itu saja. Beberapa orang atau kelompok, secara pribadi juga mencetak badge dan pin khusus untuk tukar-menukar di arena Jamnas. Komunitas-komunitas yang terkait dengan kegiatan kepramukaan misalnya, juga menerbitkan badge masing-masing. Seperti contohnya, komunitas yang bernama Indonesia Scout Journalist (ISJ). Ini adalah komunitas yang terdiri dari para Pramuka yang senang dan ingin mengembangkan diri dalam kegiatan jurnalistik, serta para jurnalis atau pewarta dan fotografer umum yang senang dengan kegiatan kepramukaan. Komunitas ISJ juga menerbitkan dua badge khusus untuk Jamnas X-2016.

Badge ISJ

Banyaknya badge dan juga pin yang diterbitkan untuk menyambut Jamnas X-2016, pertanda bahwa di kalangan anggota Gerakan Pramuka telah mulai tumbuh minat mengoleksi benda-benda memorabilia atau benda kenangan bersejarah dari kegiatan kepramukaan. Minat itu dimulai dari sejumlah anggota Gerakan Pramuka yang telah mengikuti jambore atau pertemuan-pertemuan kepanduan di luar negeri. Di sana, kegiatan berkenalan dan bersahabat dengan saling tukar-menukar badge, pin, dan benda memorabilia lainnya, sudah menjadi semacam “menu wajib”, yang walaupun bukan menjadi kegiatan utama, tetapi hampir tak dapat ditinggalkan oleh seluruh peserta.

Kegemaran yang mulai menggema di lingkungan kepanduan sedunia pada akhir 1980-an dan semakin pesat perkembangannya pada awal 2000-an itu, kemudian pelan-pelan dibawa dan disebarkan di Indonesia. Kini, di negara kita telah ada cukup banyak peminat koleksi benda-benda memorabilia kepanduan tersebut.

 

Tulisan 26 Juli 2008

Saya jadi teringat kembali bahwa beberapa tahun lalu, saya pun pernah mengajak teman-teman anggota Gerakan Pramuka untuk mengembangkan minat mengoleksi benda memorabilia kepanduan tersebut. Salah satu rekamannya ada pada tulisan saya dari 26 Juli 2008 yang masih saya temukan pada dokumen komputer lama saya.

Badge Pribadi

Begini isi tulisannya:

“Saat ini, makin banyak kolektor memorabilia kepanduan. Para kolektor itu terdiri dari mereka yang masih aktif di organisasi kepanduan, maupun yang pernah atau merasa memiliki kedekatan dengan organisasi kepanduan.

Memorabilia atau benda-benda kenangan yang dikoleksi pun amat beragam. Mulai dari badge (lambang dari kain), pin (lambang dari logam atau plastik), prangko, kartu pos, sampul (amplop) surat, kartu telepon, kancing baju, dan sebagainya yang ada logo atau gambar berkaitan dengan organisasi kepanduan. Tentu saja itu termasuk pula seragam pandu maupun kacu (setangan leher) serta topi, kaus T-shirt maupun kaus polo, dan kaus kaki serta sepatu para pandu.

Tak hanya itu. Berbagai tas pandu, mulai dari tas pinggang, ransel, tas gantung, dan lainnya, juga menjadi koleksi para kolektor memorabilia kepanduan. Ikat pinggang dengan gesper (kepala ikat pinggang) yang menampilkan desain pandu, juga menjadi benda koleksi yang banyak diminati.

Benda-benda cetakan pun banyak yang mengoleksi. Mulai dari buku-buku kepanduan, seperti Scouting for Boys dan buku-buku panduan kegiatan, majalah, brosur, poster, sampai jurnal-jurnal perkemahan besar, seperti jurnal harian berbentuk tabloid yang biasa diterbitkan pada jambore-jambore tingkat nasional sampai internasional. Semuanya itu juga menjadi bagian dari koleksi memorabilia kepanduan.

Setangan-setangan leher

Di sejumlah negara saat ini telah ada perkumpulan atau kelompok kolektor memorabilia kepanduan. Di Amerika Serikat ada Scouts On Stamps Society International (SOSSI), di Inggris ada Scouts and Guides Stamps Club (SGSC), sedangkan di Australia ada Scout & Guide Stamp Collecting Society. Kelompok-kelompok itu memang lebih mengutamakan mengoleksi prangko, kartu pos, sampul (amplop) surat, dan benda-benda filateli yang berkaitan dengan kepanduan. Namun tak sedikit pula anggotanya yang juga mengoleksi benda-benda memorabilia kepanduan di luar benda filateli.

Sementara di Aljazair ada Association des Collectionneurs d’Alger, sedangkan di Prancis ada Association Française des Collectionneurs du theme Scoutisme, dan di Belanda ada Nederlandse Vereniging Verzamelaars Scouting Objecten (NVVSO). Sesuai namanya, perkumpulan- perkumpulan tersebut terbuka bagi siapa pun yang mengoleksi benda-benda memorabilia kepanduan, tidak terbatas pada benda filateli saja.

Perkumpulan semacam itu juga tersebar di banyak negara lainnya. Sebut saja di Argentina, Austria, Ceko, Denmark, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Kolombia, Korea, Meksiko, Selandia Baru, Spanyol, Srilanka, Swiss, Yunani, dan banyak lagi. Adakah di Indonesia?

Terdorong oleh hal itu, dan juga semakin banyaknya pramuka maupun mereka yang pernah menjadi anggota Gerakan Pramuka dan memiliki keterkaitan dengan Gerakan Pramuka, yang senang mengoleksi benda-benda memorabilia kepanduan, maka saya mengajak siapa pun yang berminat untuk bersama-sama bergabung dan mendirikan Kelompok Kolektor Memorabilia Kepanduan Indonesia. Ini baru nama sementara, dan kalau nanti sudah cukup banyak yang berminat bergabung, akan dicoba diadakan pertemuan untuk lebih memantapkan keberadaan kelompok ini”.

Buku dan Majalah Kepanduan

Di bagian akhir tulisan tersebut, saya membuat semacam formulir isian untuk diisi dengan biodata dari mereka yang berminat untuk bersama-sama mengembangkan minat terhadap koleksi memorabilia kepanduan tersebut. Sayang, mungkin karena kesibukan saya pribadi, akhirnya kelompok itu belum sempat terbentuk.

Namun kini, seusai Jamnas X-2016 terus timbul desakan agar kelompok tersebut dapat segera dibentuk. Bukan sekadar sebagai wadah bagi para kolektor, tetapi juga sebagai sarana untuk mengumpulkan bukti-bukti sejarah kepanduan, khususnya di Indonesia, yang telah ada sejak 1912. Bukan tidak mungkin juga, melalui koleksi benda-benda itu, kelak di kemudian hari dapat dibangun suatu Museum Kepanduan Indonesia yang representatif.

Paling tidak itulah cita-cita saya, bersama beberapa kolektor lainnya. Di antara mereka adalah Kak (Kak atau Kakak adalah panggilan bagi orang dewasa dalam Gerakan Pramuka) Andi Fachry Makassau, Kak Djoko Adi Walujo, Kak R. Andi Widjanarko, Kak Taufik Umar Prayoga, Kak Harmidi, Kak Dina Nurismayani, serta sejumlah adik, seperti Dik Mutiara Adriane, Dik Hamas Alrafsanjani, dan Dik Eka Setyaningsih. Mereka bukan hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari luar Jakarta. Bahkan ada juga yang dari luar Pulau Jawa.

Bendera WSJ 2015

Akankah komunitas ini dapat bertumbuh? Mari sama-sama kita ikuti prosesnya. Namun satu hal yang pasti, semangat untuk mengoleksi benda memorabilia kepanduan sudah semakin berkembang di Indonesia, dan rasanya sayang bila dibiarkan tak berkembang.


TAGS pandu pramuka memorabilia badge pin tukar-menukar sejarah museum bendera indonesia jambore nasional cibubur komunitas kolektor


-

Author

Pelatih Pembina Pramuka, Kolektor Memorabilia Kepanduan/Kepramukaan, Filatelis, Penggemar Star Trek, Penggemar Kisah Petualangan Tintin

Follow Me