“Guru-guru” Saya di Pramuka, Bantu Bentuk Semangat dan Disiplin

17 Nov 2016

Bagi banyak orang, mungkin yang disebut guru selalu merujuk pada guru di sekolah. Padahal di luar sekolah pun, banyak guru yang membantu kita menjadi lebih cerdas, lebih berwawasan, sekaligus berperilaku lebih baik dan mengembangkan diri menjadi manusia yang berguna. Salah satunya adalah di Gerakan Pramuka, nama bagi gerakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan remaja di Indonesia.

Gerakan Pramuka merupakan organisasi pendidikan non-formal, melengkapi pendidikan informal di lingkungan keluarga dan masyarakat, serta pendidikan formal di sekolah. Sebagai organisasi pendidikan, tentu saja Gerakan Pramuka juga mempunyai “guru-guru”, yang memberikan pendidikan kepada para peserta didiknya. Mereka inilah yang disebut sebagai Pembina Pramuka.

Saya termasuk beruntung tetap aktif di Gerakan Pramuka, sejak pertama kali mengenal gerakan pendidikan itu ketika kelas III Sekolah Dasar (SD). Saat itu, di pertengahan 1968, seorang teman SD yang bernama Willem, mengajak saya untuk ikut berkegiatan Pramuka di sebuah pangkalan yang umum juga dikenal dengan nama Gugus Depan (Gudep) pada sebuah sekolah Katholik di bilangan Matraman, Jakarta Timur.

Sekolah itu bukan sekolah tempat saya menimba ilmu. Tetapi saat itu, kegiatan kepramukaan belum menjadi kegiatan ekstrakurikuler wajib di sekolah, jadi belum banyak Gudep yang ada di Jakarta. Saya pun ikut teman saya, dan bergabunglah menjadi Calon Siaga di Gudep 103 Djaja (Djakarta Raja = Jakarta Raya) Timur.

Pembina pertama yang juga guru pertama dalam kepramukaan bernama Arman Abdullah. Kami, para Pramuka Siaga (Pramuka yang berusia 7-10 tahun) memanggilnya Yahnda Arman, singkatan dari Ayahanda Arman. Caranya mendidik kami dengan memperhatikan semua kami yang ikut kegiatan, tanpa membeda-bedakan satu sama lain, membuat saya dan teman-teman seusia menjadi betah.

Walaupun rumah saya tak terlalu dekat – sekitar satu kilometer – dari tempat latihan Pramuka, setiap Minggu saya selalu rajin datang latihan. Setelah saya dewasa, saya baru menyadari betapa tempat latihan saya di Gudep 103 Djaja Timur, benar-benar menerapkan falsafah Pancasila, “Bhinneka Tunggal Ika”. Bayangkan, Gudep itu dikelola oleh sebuah sekolah Katholik dengan Ketua Majelis Pembimbing Gudep-nya adalah seorang Pastor, Pater Jan Lali, sementara Yahnda Arman adalah seorang Islam, dan saya sendiri adalah pemeluk agama Kristen Protestan. Teman-teman Pramuka Siaga lainnya juga berasal dari beragam agama, ada Islam, Katholik, Kristen, dan seingat saya ada seorang yang beragama Buddha.

Saya selalu terkenang keramahan Yahnda Arman, yang datang ke tempat latihan dengan menggunakan sepedanya. Bila ada teman yang terlihat kurang bersemangat, dia selalu menyemangatinya. Tidak dengan marah-marah, tetapi dengan bujukan pembangkit semangat. Belakangan Yahnda Arman yang saat mendidik kami masih merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran – kalau tidak salah dari Universitas Indonesia – sukses menjadi seorang ahli radiologi di RSUP Nasional Cipto Mangunkusumo.

Tahun 1973, saya pindah latihan Pramuka ke Gudep Pramuka yang berpangkalan di SD Kwitang III PSKD di Jalan Slamet Riyadi Raya, Jakarta Timur. Ini adalah bekas SD tempat saya menimba ilmu. Waktu saya masuk, masih berupa Gudep Persiapan PSKD. Namun setelah melalui proses, akhirnya berhasil mendapatkan nomor Gudep dan menjadi Gudep 1131 Jakarta Timur.

Di Gudep ini pun saya mendapatkan “guru-guru” yang membantu aktivitas saya sebagai seorang Pramuka. Paling tidak ada dua nama kakak Pembina Pramuka, yaitu Kak Sukartidjo yang memang guru di sekolah itu, dan Kak Triatmodjo DS, karyawan di sebuah perusahaan farmasi yang aktif berkegiatan Pramuka sejak dia masih menetap di Jawa Tengah.

Saya pun terus berkegiatan Pramuka. Bukan hanya sampai tingkat nasional dengan menjadi Andalan Nasional Gerakan Pramuka, namun juga aktif di kegiatan internasional. Sejak 1995, saya telah menjadi Koresponden Kehormatan Kepanduan Asia-Pasifik, dan kemudian menjadi anggota serta wakil ketua di beberapa Subkomite Kepanduan Asia-Pasifik.

Cukup banyak penghargaan dari dalam dan luar negeri yang saya terima. Dari lingkungan Gerakan Pramuka, temasuk Lencana Melati yang merupakan penghargaan tertinggi kedua bagi orang dewasa. Penghargaan tertinggi adalah Lencana Tunas Kencana, tetapi hanya diberikan kepada Presiden, Ketua Kwartir Nasional, atau tokoh-tokoh yang sangat berjasa bagi Gerakan Pramuka.

Sedangkan dari luar negeri, selain dari Singapura, Malaysia, dan Thailand, saya juga telah memperoleh penghargaan medali Asia-Pacific Regional Scout Chairman’s Award. Sampai saat ini baru empat orang Indonesia yang menerimanya, dan saya adalah salah satunya. Begitu pula keaktifan saya sebagai Korespoenden Kehormatan Kepanduan Asia-Pasifik, membuat saya dianugerahi penghargaan khusus langsung oleh Ketua Komite Kepanduan Asia-Pasifik, Paul Parkinson, paro pertama 2016 ini seperti tampak dalam foto di atas.

Paling tidak dari kegiatan kepramukaan saya mendapat banyak pendidikan, mulai dari pendidikan budi pekerti, keinginan untuk membantu orang yang memerlukan bantuan, kasih sayang terhadap mahluk hidup dan alam sekitar, sampai hal-hal yang terlihat kecil namun penting, misalnya disiplin menepati janji. Misalnya, janji bertemu pada pukul 10.00 di suatu hari, saya berusaha sedapat mungkin untuk tepat waktu. Bahkan bila mungkin, sebelum waktu yang ditentukan telah berada di tempat pertemuan, walaupun di Jakarta saat ini agak sukar diprediksi waktu tempuh, karena suatu ketika tidak macet, kali lain macet di jalan yang sama.

Dari “guru-guru” saya itu, Yahnda Arman, Kak Sukartidjo, dan Kak Triatmodjo, saya belajar banyak hal. Termasuk slogan yang saya yakini sampai kini, “untuk maju yang penting semangat dan disiplin diri, kepandaian nomor dua”.


TAGS pandu pramuka guru opini asia-pasifik


-

Author

Pelatih Pembina Pramuka, Kolektor Memorabilia Kepanduan/Kepramukaan, Filatelis, Penggemar Star Trek, Penggemar Kisah Petualangan Tintin

Follow Me