Saat Tepat, Kaum Muda Pimpin Gerakan Kepanduan

18 Nov 2016

Ahmad Alhendawi

Baru-baru ini, terdengar kabar bahwa Gerakan Kepanduan Sedunia, World Organization of the Scout Movement (WOSM), telah memilih Sekretaris Jenderal (Sesjen) yang baru. Mengejutkan, karena ternyata Sesjen baru WOSM baru berusia 32 tahun. Ya, Ahmad Alhendawi dari Yordania yang terpilih menjadi Sesjen baru WOSM memang baru berusia 32 tahun, dan dia akan memulai tugasnya sebagai Sesjen suatu organisasi yang memiliki lebih dari 40 juta anggota di seluruh dunia pada Maret 2017.

Ini memang fenomena baru. Sebelumnya, selama berpuluh-puluh tahun, Sesjen WOSM biasanya berusia di atas 50 tahun. Memang, gerakan kepanduan bukanlah organisasi pemuda, sebagaimana yang sering dibayangkan sebagian orang. Gerakan kepanduan yang di Indonesia bernama Gerakan Pramuka adalah

organisasi pendidikan non-formal, yang dibentuk untuk melengkapi pendidikan informal di lingkungan keluarga dan masyarakat dan pendidikan formal di sekolah.

Walaupun bukan organisasi pemuda, gerakan kepanduan tetap erat kaitannya dengan kaum muda. Objek dan sekaligus subjek pendidikan dalam gerakan kepanduan adalah kaum muda, anak-anak dan remaja yang berusia antara 7 sampai 25 tahun. Hal ini yang tampaknya disadari WOSM, dengan memilih anak muda untuk menduduki posisi penting di organisasi tersebut.

Pemilihan Ahmad Alhendawi yang masih berusia muda tersebut tampaknya juga dilatarbelakangi justru karena dia masih muda, maka yang bersangkutan akan lebih mudah memahami kebutuhan kaum muda. Dia juga akan dapat lebih mengerti cara-cara yang diinginkan kaum muda untuk mendapatkan kebutuhannya.

Bukan berarti orang yang berusia tua tidak dapat mengerti kebutuhan kaum muda. Namun mungkin upaya untuk memenuhi kebutuhan kaum muda terkadang tidak sejalan yang diinginkan kaum muda. Ada hambatan perbedaan generasi, selain kemungkinan besar sudah tidak begitu mengikuti perkembangan zaman, khususnya perkembangan “dunia” kaum muda yang saat ini berkembang begitu pesat, bahkan dalam hitungan hari atau jam, karena demikian cepatnya perkembangan teknologi informasi.

Sebagai contoh bisa dikemukakan, ketika kaum tua mungkin hanya memanfaatkan Facebook dan Twitter sebagai media sosial mereka, atau paling jauh menambahnya dengan Whatsapp, kaum muda sudah bermain dengan Path, Instagram, Line,dan banyak aplikasi media sosial terbaru lainnya.

Hal lainnya, karena organisasi kepanduan bergerak dalam pendidikan bagi kaum muda di alam terbuka, seyogyanya memiliki pula pimpinan organisasi yang berusia muda, sehingga lebih lincah bergerak dalam kegiatan di alam terbuka. Meski pun bukan berarti yang sudah tua, tidak mampu berkegiatan di alam terbuka.

Kecenderungan memilih kaum muda sebagai pimpinan organisasi kepanduan tampaknya memang mulai ramai di awal 2000-an ini. Di Inggris misalnya, yang merupakan tempat lahirnya gerakan kepanduan sedunia, pernah memilih Bear Grylls, tokoh petualang alam terbuka dan pembawa acara televisi yang namanya sudah mendunia, sebagai pimpinan organisasi kepanduan di negara itu. Di Singapura demikian pula. Saat ini, pimpinan Singapore Scout Association yang merupakan organisasi kepanduan di negara tetangga tersebut, dipegang oleh Tan Cheng Kiong yang berusia masih cukup muda.

Lalu bagaimana di Indonesia? Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Adhyaksa Dault, saat ini berusia 53 tahun. Kemudian Ketua Kwartir Daerah Jawa Barat, Dede Yusuf, berusia 50 tahun. Keduanya tergolong muda, dibandingkan pimpinan-pimpinan kwartir di banyak tempat lainnya.

Lalu kalau pimpinan gerakan atau organisasi kepanduan di tangan kaum muda, ke mana harus ditempatkan para Pembina Pramuka atau orang dewasa anggota Gerakan Pramuka yang telah berusia cukup tua, katakanlah mereka yang telah berusia 60 tahun ke atas?

Mereka dapat diarahkan menjadi semacam think tank, atau kelompok pemikir di dalam lingkungan Gerakan Pramuka. Pengalaman yang telah banyak, pasti membuat mereka mampu melihat dari berbagai sudut pandang untuk melaksanakan suatu kegiatan pendidikan kepanduan. Mereka juga tentunya lebih hati-hati, dan dapat menjadi “rem” bila terlihat pimpinan kepanduan berusia muda terlalu bersemangat sampai melupakan hal-hal prinsip dalam kegiatan kepanduan.

Namun harus diingat pula, pimpinan dalam suatu organisasi kepanduan bersifat kolegial. Artinya meski pun ada seorang ketua, tetapi biasanya di tingkat kwartir contohnya, terdapat pula sejumlah wakil ketua. Ada baiknya, diberikan perimbangan untuk mengisi posisi ketua dan para wakil ketua itu. Jadi yang berusia tua dan berusia muda, dapat bersinergi mengembangkan kwartirnya.

Lalu dari mana pula mencari kaum muda yang potensial direkrut untuk menjadi pimpinan organisasi kepanduan? Sebenarnya tak terlalu sulit. Pada hampir semua organisasi kepanduan nasional , ada organ yang bernama Dewan Kerja. Ini adalah organisasi yang terdiri dari para Pandu atau Pramuka yang berusia sekitar 16 sampai 25 tahun, yang di Indonesia termasuk golongan Pramuka Penegak dan Pandega.

Pada kepengurusan Dewan Kerja, para Pramuka Penegak dan Pandega belajar berorganisasi. Memimpin teman-teman sebayanya, mulai dari tingkat nasional sampai tingkat ranting di kecamatan-kecamatan. Mereka juga diberi hak untuk menyusun dan melaksanakan program kerja bagi para Pramuka Penegak dan Pandega, sesuai aspirasi dan kebutuhan mereka sendiri.

Mereka yang menjadi Dewan Kerja biasanya dipilih yang terbaik dari antara Pramuka Penegak dan Pandega di wilayah masing-masing. Mereka inilah yang bakal menjadi kader-kader penerus untuk memimpin organisasi kepanduan. Sehingga bila kelak tenaga mereka dibutuhkan saat organisasi kepanduan setempat mencari kaum muda yang cocok untuk menjadi pimpinan, tak sulit lagi mendapatkannnya. Jadi memang saat ini adalah saat tepat, kaum muda memimpin gerakan kepanduan, dan itu sudah dibuktikan oleh WOSM.


TAGS pandu pramuka WOSM Pembina Penegak Pandega usia muda Ahmeda Alhendawi Adhyaksa Dault Dede Yusuf kwartir


-

Author

Pelatih Pembina Pramuka, Kolektor Memorabilia Kepanduan/Kepramukaan, Filatelis, Penggemar Star Trek, Penggemar Kisah Petualangan Tintin

Follow Me