Sudah Saatnya, Pramuka Diberi Syarat Gunakan Media Sosial dengan Baik

28 Nov 2016

 Gerakan Pramuka bukanlah organisasi pemuda. Gerakan Pramuka sebagaimana organisasi kepanduan di seluruh dunia adalah organisasi pendidikan nonformal, yang melengkapi pendidikan informal di lingkugan keluarga dan masyarakat, serta pendidikan formal di sekolah-sekolah. Walaupun bukan organisasi pemuda, objek dan sekaligus subjek utama Gerakan Pramuka adalah pemuda, atau tepatnya kaum muda.

Mulai dari Pramuka Siaga (7-10 tahun), Penggalang (11-15 tahun), Penegak (16-20 tahun), dan Pandega (21-25 tahun). Mereka inilah yang menjadi peserta didik dalam Gerakan Pramuka. Jelas bila dilihat dari rentang usianya, 7 sampai dengan 25 tahun, mereka tergolong kaum muda. Rentang usia yang banyak bersentuhan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk teknologi informasi.

Kaum muda dewasa ini paling cepat mengadaptasi teknologi informasi, di dalamnya tentu saja juga terkait dengan beragam media sosial yang ada. Meski pun Facebook sudah dibilang “old school” dan lebih disukai mereka yang berusia di atas 25 tahun, tetapi tak sedikit juga kaum muda yang mempunyai akun Facebook. Apalagi akun media sosial lainnya, mulai dari Twitter, Path, Instagram, Line, dan lainnya, hampir dipastikan sangat akrab dengan kehidupan kaum muda.

Bahkan bisa dibilang, hampir tak ada satu detik pun yang terlewatkan untuk membaca, menggunggah, dan membagi segala sesuatunya di media sosial. Hal serupa berlaku pula dengan kaum muda yang menjadi anggota Gerakan Pramuka.

Kini, dengan berlakunya Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang berlaku mulai 28 November 2016, tampaknya orang-orang dewasa dalam Gerakan Pramuka, khususnya Pelatih Pembina Pramuka dan Pembina Prauka perlu lebih memperhatikan hal ini, sekaligus menyebarluaskan dan mensosialisasikan pada latihan-latihan mingguan Pramuka atau pun pada setiap kesempatan kegiatan kepramukaan.

Selain kepada diri para orang dewasa dalam Gerakan Pramuka, kepada adik-adik peserta didik juga harus dididik mengenai perlunya kehati-hatian dalam mengunggah tulisan, foto, gambar dan membagi tulisan, foto, gambar yang mereka lihat di media sosial. Tulisan, foto, gambar, dan sejenisnya yang berisikan hasutan, penghinaan, pencemaran nama baik, penipuan, memprovokasi lewat isu suku, agama, ras, dan antargolongan, termasuk menggunggah dan menyebarluaskan berita-berita bohong, merupakan tindak pidana yang diancam dengan hukuman penjara dan denda yang nilainya sangat besar.

Jadi adik-adik harus berhati-hati dalam mengunggah tulisan, foto, gambar, dan sejenisnya. Begitu pula saat membaca sesuatu hal di media sosial, jangan serta-merta dibagi dan disebarluaskan. Bisa saja informasi itu tidak benar, bahkan sengaja dipalsukan atau yang kini dikenal dengan istilah “hoax”. Mereka yang terkena ancaman bukan hanya yang pertama kali mengunggah informasi “hoax” itu, tetapi juga yang membagi dan menyebarluaskannya.

Jadi kalau dalam latihan-latihan kepramukaan pada 1970-an atau 1980-an, adik-adik sejak kecil dididik bagaimana menulis surat dan menelepon dengan baik, sekarang jelas harus ditambah. Sejak dini, kepada para Pramuka Siaga pun sudah harus mulai dididik bagaimana menggunakan media sosial secara baik dan benar. Pendidikannya tidak perlu kaku seperti ketika belajar di dalam kelas, tetapi akan lebih menyenangkan bila diberikan dalam bentuk permainan di luar ruangan.

Intinya tetap, pendidikan media sosial harus menjadi bagian dari pendidikan wajib di Gerakan Pramuka. Sudah saatnya, Syarat Kecakapan Umum (SKU) bagi peserta didik Gerakan Pramuka di semua golongan, dimasukkan pula syarat menggunakan media sosial dengan baik dan benar.

Sekadar menjelaskan, SKU adalah syarat yang harus dipenuhi peserta didik sesuai golongannya untuk mencapai tingkatan tertentu dalam golongannya. Di golongan Pramuka Siaga, dimulai dari calon Siaga, lalu setelah menyelesaikan SKU tertentu naik menjadi Siaga Mula, baru Siaga Bantu, dan paling tinggi Siaga Tata. Di golongan Pramuka Penggalang, dimulai dari calon Penggalang, baru naik menjadi Penggalang Ramu, berikutnya Penggalang Rakit, dan baru Penggalang Terap. Sedangkan di golongan Pramuka Penegak, dimulai dari calon Penegak, kemudian menjadi Penegak Bantara dan baru Penegak Laksana. Ada pun di golongan Pramuka Pandega hanya ada calon Pandega yang kemudian menjadi Pramuka Pandega.

Di tiap golongan dan tingkatan itu, syarat menggunakan media sosial yang baik dan benar seyogyanya menjadi bagian dari SKU yang ada. Sehingga, setiap anggota Gerakan Pramuka memang benar-benar mampu menggunakan media sosial dengan baik, tanpa perlu khawatir terkena sanksi pidana sesuai UU ITE.


TAGS pramuka Gerakan Pramuka media sosial Syarat Kecakapan Umum teknologi informasi UU ITE revisi UU ITE Siaga Penggalang Penegak Pandega


Comment
-

Author

Pelatih Pembina Pramuka, Kolektor Memorabilia Kepanduan/Kepramukaan, Filatelis, Penggemar Star Trek, Penggemar Kisah Petualangan Tintin

Follow Me