Ibu, Menolong Tanpa Membedakan

23 Dec 2016

Hari Ibu di Indonesia memang tidak sama persis dengan Mother’s Day di luar negeri. Kalau di luar negeri, terutama di negara-negara Barat, Mother’s Day memang diadakan untuk memperingati jasa para ibu (khususnya) kepada anak-anak mereka, maka di Indonesia peringatan Hari Ibu pada tiap 22 Desember adalah untuk memperingati gerakan kaum perempuan di Tanah Air.

Ketika masa penjajahan, ketika bahkan kaum pria bumiputera pun dalam banyak hal “ditekan” oleh penguasa kolonial, kaum perempuan dengan beraninya menyelenggarakan Kongres Perempuan di Yogyakarta, pada 22 Desember 1928. Kongres yang hanya berselang beberapa bulan dari Kongres Pemuda di Jakarta pada 27-28 Oktober 1928 yang menghasilkan kesepakatan kaum muda dan dikenal dengan nama “Sumpah Pemuda”.

Itu berarti, sejak masa penjajahan pun, kaum perempuan telah menunjukkan martabat dan keberaniannya untuk menjaga harkat dan martabat mereka. Kongres Perempuan itu diadakan selama empat hari, 22 sampai 25 Desember 1928, dan patut dicatat bahwa baik panitia maupun pesertanya berasal dari berbagai latar belakang suku, agama, ras, dan antargolongan.

Sebagai catatan, para peserta yang ikut antara lain dari organisasi-organisasi Putri Indonesia, Wanito Tomo, Wanito Muljo, Wanita Katolik, Aisjiah, Ina Tuni dari Ambon, Jong Islamieten Bond bagian Wanita, Jong Java Meisjeskring, Poetri Boedi Sedjati, Poetri Mardika, dan Wanita Taman Siswa. Dari nama berbagai organisasi itu saja sudah terlihat betapa beragamnya perempuan yang ikut kongres.

Ini penting untuk dikemukakan kembali, karena pada saat kita memperingati Hari Ibu 22 Desember 2016, ketika kondisi bangsa dan negara cenderung terpecah oleh isu-isu suku, agama, ras, dan antargolongan, kita dapat belajar lagi dari kaum perempuan yang ikut kongres 88 tahun lalu itu. Meski pun mereka berbeda-beda latar belakangnya, tetapi semangat kebangsaan menyatukan mereka dalam kongres tersebut.

 

Bhinneka Tunggal Ika

Bicara semangat kebangsaan dan nasionalisme Indonesia yang tak membeda-bedakan latar belakang, sebagaimana dinyatakan dalam slogan “Bhinneka Tunggal Ika” atau berbeda-beda tapi satu tujuan, saya juga melihatnya dari ibu saya. Seorang perempuan Minahasa, Sulawesi Utara, yang hanya mengenyam pendidikan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), pendidikan setingkat SMP pada masa penjajahan Belanda.

Dilahirkan di Sulawesi Utara pada 25 September 1920, ibu saya yang bernama CHB Sinjal atau akrab dipanggil Tante Lien atau Oma Lien, meninggal dunia di Jakarta menjelang usianya yang ke-95. Selama kurun hidupnya yang cukup lama, bahkan di atas rata-rata usia hidup orang Indonesia, saya melihat sendiri betapa beliau sangat mengedepankan slogan Bhinneka Tunggal Ika, tak pernah membeda-bedakan orang hanya karena perbedaan latar belakang.

Lahir dan besar dari keluarga Kristen, ibu saya tak menolak menantu yang beragama Islam atau Katholik. Dalam pergaulannya pun, ibu juga mempunyai banyak teman dari berbagai latar belakang. Bahkan tukang becak – ketika Jakarta masih ada becak – sampai tukang sayur dan lainnya, tak pernah dianggap sekadar “tukang”. Beliau tetap menghargai siapa pun.

Menjadi istri dari seorang pegawai negeri sipil, ibu mencurahkan seluruh hidupnya untuk membesarkan keluarga yang terdiri dari delapan anak. Tak ada yang dibeda-bedakan, termasuk ketika sudah mempunyai cucu, ibu selalu menyayangi setiap cucunya.

Dari ibu dan juga ayah, saya juga belajar bahwa pendidikan itu penting. Cita-cita boleh apa saja asal positif, yang penting jangan melupakan pendidikan. Bahkan agar anak-anaknya memusatkan diri pada pendidikan, maka ibu tak segan-segan bangun pagi sekali untuk menyiapkan segala sesuatu bagi anak-anaknya yang hendak ke sekolah.

Ibu memang tidak pernah menjadi aktivis, paling-paling pernah aktif sebagai relawan Palang Merah di awal-awal Kemerdekaan RI. Tampaknya, perhatian pada bidang kesehatan itu yang membuat ibu selalu menangani kesehatan anak-anaknya dengan baik. Bahkan bagi anak-anak yang sudah dewasa pun, ibu tak pernah lupa mengingatkan untuk hidup sehat. Bagi yang mempunyai penyakit, ibu mengingatkan untuk jangan lupa minum obat.

Ibu juga seorang penjahit yang handal. Dia bahkan pernah membuka kursus jahit dan menerima jahitan. Uniknya, bagi mereka yang tak mampu, ibu membebaskan biaya kursus. Senang membantu orang lain, terutama mereka yang membutuhkan, memang menjadi salah satu hal yang saya teladani dari ibu. Bukan saja soal jahit-menjahit, tetapi juga lainnya.

Ibu tak segan memberi beras milik keluarga kepada mereka yang membutuhkan, juga pakaian dan lainnya. Kalau membantu, beliau memang tak tanggung-tanggung. Banyak orang yang dibantu beliau melalui berbagai cara. Meski pun kami bukan keluarga kaya dan ayah adalah pegawai negeri sipil yang bersahaja, tetapi ibu tak sungkan mengulurkan tangan membantu orang lain.

Saya pun kagum pada sikap ibu, dia tetap rendah hati dan tidak ingin menonjolkan diri. Tetap sebagai ibu rumah tangga biasa yang sampai akhir hayatnya rajin mengisi teka-teki silang, membaca Alkitab sesuai dengan keyakinannya, dan meski ketika usia tua agak susah berjalan, tetap mandiri menyiapkan keperluan sendiri dan sekaligus tetap ingin menolong orang lain, baik keluarganya maupun orang lain yang ditemuinya. Menolong tanpa membedakan latar belakang orang yang ditolongnya.

Terima kasih, Ibu.


TAGS ibu hari ibu 22 Desember mother's day lifestyle terima kasih kongres perempuan minahasa jakarta Kristen Alkitab


-

Author

Pelatih Pembina Pramuka, Kolektor Memorabilia Kepanduan/Kepramukaan, Filatelis, Penggemar Star Trek, Penggemar Kisah Petualangan Tintin

Follow Me