Komunitas Indo Star Trek, Ketika Keberagaman adalah Perekat Persatuan

31 Jan 2017

Dewasa ini, ketika di Indonesia dan di berbagai negara lainnya, masih terus disibukkan dengan kasus-kasus intoleransi, rasialisme, pertentangan antaragama, dan sejenisnya, mereka yang menyukai film fiksi ilmiah Star Trek, justru sebaliknya. Komunitas ini dan komunitas penggemar Star Trek di mana saja, selalu menyuarakan justru keberagaman itu indah, dan keberagaman adalah perekat persatuan antarsesama.

Bagi yang belum familiar, Star Trek adalah film fiksi ilmiah karya Gene Roddenberry, yang pertama kali ditayangkan di salah satu saluran televisi di Amerika Serikat (AS) pada 8 September 1966. Siapa sangka, setelah ditayangkan film yang mengisahkan petualangan manusia di masa depan mencari “dunia baru” yang belum pernah didatangi sebelumnya, ternyata disukai bukan hanya di AS, tetapi di banyak negara lainnya.

Film itu masuk ke Indonesia dan ditayangkan di TVRI pada 1974. Segera saja, banyak penonton televisi di Tanah Air, yang tertarik dengan kisah tersebut. Apalagi saat itu, dunia sedang sangat menggemari persaingan antara Uni Sovyet dan AS dalam “lomba” menuju angkasa luar, dan mencoba mendarat di bulan.

Ketika diputar di Indonesia, masih hangat peristiwa manusia pertama mendarat di bulan pada 1969, dan juga tahun-tahun selanjutnya ketika banyak astronot lain yang mencoba mendarat di permukaan bulan. Jelaslah, peminatnya pun semakin bertambah.

Setelah serial Star Trek yang kemudian dikenal dengan sebutan The Original Series (TOS) sukses, dilanjutkan dengan serial-serial berikutnya. Bukan hanya dalam bentuk film serial televisi, berbagai film bioskop juga diproduksi. Sampai saat ini pun, walaupun telah mencapai usia ke-50, film Star Trek tetap digemari. Dan bagi penggemarnya di Indonesia, film terbarunya Star Trek Beyond yang dirilis baru saja pada 2016, merupakan kejutan menggembirakan. Dalam film tersebut, aktor Indonesia, Joe Taslim, mendapat peran cukup besar sebagai salah satu pendukung film yang diputar di banyak negara tersebut.

 

Isu Rasialisme

Bicara tentang Star Trek, para penggemarnya yang dikenal dengan Trekkie atau Trekker itu, memang bangga. Tak lain dan tak bukan, karena film itu menggambarkan betapa keberagaman adalah sesuatu yang mengesankan, dan walaupun berbeda-beda tapi tetap bisa bersatu.

Kisahnya sendiri bukan sekadar perjalanan ke luar angkasa, tetapi pertemuan mahluk dari berbagai bangsa, bahkan dengan alien (mahluk yang bukan manusia bumi), terjalin dalam rangkaian kisah menarik. Visi sang pencipta, Gene Roddenberry, menciptakan dunia yang menjadi tempat bagi semua apa pun latar belakangnya, terlihat jelas dalam film tersebut.

Contohnya kasus rasialisme yang saat film itu dibuat isu rasialisme masih mengemuka, tetapi di pesawat USS Enterprise, yang digunakan sebagai pesawat utama dalam penjelajahan angkasa luar pada film tersebut, telah ditempatkan seorang kulit hitam sebagai perwira komunikasi. Hebatnya lagi, sang perwira kulit hitam itu adalah seorang wanita. Dikisahkan pula, adanya hubungan asmara antara perwira wanita kulit hitam dengan perwira pria kulit putih, suatu hal yang sukar dibayangkan terjadi pada tahun 1960-an, khususnya di AS, tempat film itu diproduksi.

Masih pada masa yang sama, ketika masih ada “Perang Dingin” antara AS dan Uni Sovyet, di dalam pesawat USS Enterprise telah ada seorang perwira penting yang bernama Pavel Chekov, nama yang jelas berhubungan dengan nama keluarga di Uni Sovyet. Keberagaman dalam kisah itu, termasuk pula sejumlah tokoh alien dari planet-planet lain di luar planet Bumi.

Ada karakter Klingon, yang merupakan bangsa prajurit dan pejuang, ada juga Vulcan, bangsa yang pintar dan berpikir logis. Kalau kita padankan dengan beragam suku bangsa di dunia saat ini, bisa dilihat pula betapa Worf yang seorang dari bangsa Klingon, dan Spock yang berasal dari Vulcan, bisa bergabung pula dengan perwira-perwira lainnya di pesawat angkasa luar yang membawa mereka menjelajahi ke tempat-tempat yang belum pernah didatangi sebelumnya.

Selain perbedaan warna kulit, bangsa, dan lainnya, Roddenberry juga menciptakan bahasa-bahasa tersendiri. Memang bukan Roddenberry sendiri yang menciptakannya, tetapi suatu tim di bawah produksinya. Maka lahirlah bahasa Klingon dan bahasa Vulcan, yang bahkan kini menjadi daya tarik tersendiri bagi para peminat dan ahli bahasa dari seluruh dunia.

 

Teknologi Modern

Film fiksi ilmiah Star Trek menginspirasi pula terciptanya berbagai piranti di masa depan. Misalnya, Contohnya, Communicator, alat komunikasi kecil untuk berbicara antara satu orang dengan orang lainnya yang berada di tempat berjauhan, kini menjelma menjadi telepon seluler. Uniknya, communicator di Star Trek digambarkan mirip dengan telepon seluler dengan flip yang bisa ditutup buka, mirip dengan yang diciptakan Motorola sekitar 20 tahun setelah ditayangkan di Star Trek.

Peralatan kesehatan yang kini sedang dikembangkan dan telah mulai digunakan di banyak rumah sakit di negara maju adalah alat suntik. Pada kisah yang menceritakan Sick Bay, ruangan perawatan bagi orang sakit di pesawat USS Enterprise, digambarkan adanya alat suntik tanpa jarum, yang kemudian benar-benar ternyata terbukti.

Film Star Trek juga tampaknya berusaha menggambarkan pemikiran bahwa kalau ada orang jahat, jangan langsung dibunuh. Tetapi cukup dilumpuhkan saja. Ini juga salah satu sisi kemanusiaan film tersebut. Itulah sebabnya ada yang dinamakan senjata Phaser atau pistol sinar di Star Trek, kini mulai dikembangkan juga. Sinarnya bisa melumpuhkan orang yang ditembak dengan senjata tersebut.

Hal-hal itulah yang antara lain menjadikan Star Trek makin lama makin diminati. Seperti di Indonesia yang penggemarnya telah ada cukup banyak, tersebar di berbagai kota di Tanah Air. Mereka tergabung dalam komunitas Indo Star Trek, atau lengkapnya Indonesian Star Trek Community. Anggota komunitas IST – demikian singkatannya – terdiri dari berbagai lapisan usia. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Bahkan di IST, setiap anggota diberikan pula panggilan “pangkat” selayaknya dalam film Star Trek. Untuk yang berusia di bawah 10 tahun dipanggil dengan pangkat “Cadet”, lalu 10-19 tahun mendapat pangkat “Ensign”, 20-29 tahun “Lieutenant”, 30-39 tahun “Commander”, 40-49 tahun “Captain”, dan yang berusia di atas 50 dipanggil dengan pangkat “Admiral”.

 

“First Contact”

Komunitas ini berkembang sejak ditayangkan di TVRI dan kemudian berlanjut di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Tetapi baru benar-benar berkembang pada 1990-an, dengan terbentuknya komunitas penggemar Star Trek di Jakarta yang diberi nama USS Batavia dan di Bandung dengan nama USS Parahyangan.

Sayangnya, komunitas yang ada masih timbul tenggelam. Barulah pada 2003, dengan dibuatnya mailing list Indo Star Trek di Yahoogroups, komunitas ini kembali berkembang sampai saat ini. Apalagi setelah adanya pada 2006 diadakan pertemuan pertama antaranggota mailing list tersebut yang dinamakan First Contact, mengacu pada salah satu judul kisah Star Trek ketika manusia untuk pertama kalinya bertemu dengan alien.

Sampai saat ini, komunitas IST terus berkembang. Selain mengadakan acara nonton bareng, pertemuan dengan menggunakan kostum-kostum yang digunakan dalam film Star Trek seperti layaknya para cosplayer saat ini, juga diadkaan pertemuan dalam bentuk kelas membahas dan mendiskusikan berbagai hal yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan Star Trek. Baik hal-hal yang dibahas secara ilmiah maupun populer.

Satu hal yang pasti, semua anggota komunitas IST senantiasa diingatkan “Prime Directive” dalam Star Trek, yaitu aturan utama yang harus dipatuhi semua perwira dalam film Star Trek. Intinya adalah perlu dikembangkan sikap toleransi, saling menghargai, dan tidak ikut mencampuri urusan orang lain. Di samping tentu saja, para anggota IST juga selalu menghargai bumi dan lingkungannya, sebagai bagian dari “rumah” kita bersama.

 

Catatan: Bagi yang berminat bergabung dengan IST, bisa langsung ke akun Facebook IndoStarTrek, Website indo-startrek.org, atau Twitter @indostartek.

 

(Foto-foto: Koleksi IST)


TAGS pestakomunitas2017 star trek komunitas trekkie trekker cosplay Film fiksi ilmiah gene roddenberry Amerika Serikat Uni Sovyet alien keberagaman persatuan bumi lingkungan first contact indonesia Indo Star Trek


-

Author

Pelatih Pembina Pramuka, Kolektor Memorabilia Kepanduan/Kepramukaan, Filatelis, Penggemar Star Trek, Penggemar Kisah Petualangan Tintin

Follow Me