Meriah, Peringatan Hari Buku Sedunia

23 Apr 2017

Selama tiga hari berturut-turut, dari 21 sampai 23 April 2017, perayaan Hari Buku Sedunia (World Book Day) berlangsung meriah di Rumah Dunia, Serang, Banten. Rumah Dunia adalah suatu tempat yang digagas oleh sastrawan Gola Gong dan sejumlah penulis Banten, untuk menumbuhkembangkan aktivitas kesusastraan, jurnalistik, film, dan teater, serta kegiatan kreatif lainnya.

Seperti juga tahun sebelumnya, perayaan Hari Buku Sedunia antara lain ditandai dengan peluncuran buku-buku bacaan berbagai jenis. Tahun lalu, Rumah Dunia berhasil meluncurkan 53 buku. Pada 2017 ini, jumlahnya meningkat menjadi 64 buku.

Puncak acara yang diadakan bertepatan Hari Buku Sedunia 23 April 2017, ditandai pula dengan pengenalan tentang reportase jurnalistik investigasi oleh wartawan senior Maman Suherman, serta ajakan untuk menyebarluaskan semangat anti korupsi melalui tulisan dan buku-buku, yang disampaikan oleh perwakilan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Hari Buku Sedunia di Rumah Dunia, Serang, Banten
Di antara sekian banyak buku yang diluncurkan pada Hari Buku Sedunia itu, salah satunya adalah kumpulan puisi berjudul “Kubayangkan Chairil Anwar” yang disusun Berthold Sinaulan. Buku yang berisikan 57 puisi terkait dengan karya maupun sosok Chairil Anwar itu juga diterbitkan untuk memperingati 95 tahun hari lahir penyair terkenal Indonesia tersebut yang dianggap sebagai pelopor Angkatan ’45. Meski pun Chairil Anwar telah lama meninggal dunia, namun karya-karyanya masih sering dikutip dan dibacakan sampai saat ini.

Buku kumpulan puisi tersebut diterbitkan oleh Nulisbuku, suatu komunitas penulis buku yang terbuka untuk semua. Setebal empat halaman awal ditambah 104 halaman isi, menurut rencana penjualannya digunakan untuk mengembangkan kegiatan literasi dan jurnalistik di kalangan kepramukaan, yang juga saat ini tengah digencarkan sang penulis buku dan teman-temannya dari perkumpulan Indonesia Scout Journalist.

Sampul kumpulan puisi

Berikut ini teks lengkap puisi “Kubayangkan Chairil Anwar” yang menjadi judul buku tersebut:

 

Kubayangkan Chairil Anwar

 

Kubayangkan Chairil Anwar

masih hidup sampai kini

tua memang tapi sehat

lantaran rokok dan segala

tembakau sudah dia buang

juga botol-botol minuman keras itu,

jauh ke tempat sampah

yang tak ingin dikoreknya lagi.

 

Kubayangkan Chairil Anwar

masih hidup sama kini

kursi roda mungkin penyangganya

dalam rumah besar delapan kamar

sambil makan bubur dan

menyeruput teh hangat dicampur madu

murni tentunya, sudah kaya dia

royalti karyanya berkali lipat.

 

Kubayangkan Chairil Anwar

masih hidup sampai kini

di depan komputer dengan kacamata

terus menatap membaca karya

Sapardi Djoko Damono,

Ajip Rosidi, WS Rendra,

Sutardji Calzoum Bachri,

juga Yudhistira dan Noorca

yang keduanya Massardi,

sampai Nirwan Dewanto, Joko Pinurbo,

Dorothea Rosa Herliany,

pun Wiji Thukul yang entah

ke mana dan di mana sampai kini,

entah apa yang ada di pikiran tuanya,

akankah Chairil kagum, tak mengerti,

atau “no comment”.

 

Kubayangkan Chairil Anwar

masih hidup sampai kini

akan jugakah dia gunakan Facebook,

Twiiter, Path, Instagram, segala

rupa media sosial, atau justru

tak merasa perlu, cukup duduk

di kursi roda mendengar musik

dan nonton film hiburan ringan

menikmati royalti karya yang

terus berdatangan,

tak pernah habis.

 

Kubayangkan Chairil Anwar

masih hidup sampai kini,

sambil kuajak berbincang untuk

membuka misteri demi misteri

dalam puisi-puisinya

tentang nama

tentang kisah

tentang segala hal.

 

Bintaro Sektor IX, 18 Maret 2017.


TAGS hari buku sedunia buku puisi Chairil Anwar Gola Gong Berthold Sinaulan Rumah Dunia


-

Author

Pelatih Pembina Pramuka, Kolektor Memorabilia Kepanduan/Kepramukaan, Filatelis, Penggemar Star Trek, Penggemar Kisah Petualangan Tintin

Follow Me