Jokowi dan Trump dalam Kumpulan Puisi

3 Sep 2017

Bagaimana kalau Jokowi dan Donald Trump jadi puisi? Ini salah satu contohnya dalam puisi berjudul “Puisi Jokowi, Puisi Trump”:

Nonton Trump dan Jokowi (atau haruskah kutulis Jokowi dan Trump?) bikinku berimajinasi, kalau saja kujadi Presiden kuperintahkan semua gedung pemerintah terpateri kalimat-kalimat puitis di gerbangnya, dan di setiap ruang kerja ada puisi tertempel di sana, terpampang dalam pigura indah, yang hurufnya mudah dibaca dari jarak dua meter sekali pun.

Begitu tertulis di bagian awal puisi yang menjadi salah satu dari 50 puisi dalam buku kumpulan puisi bertajuk Puisi Itu Adalah karya Berthold Sinaulan. Kumpulan puisi yang diterbitkan oleh Nulisbuku.com dan teregistrasi dengan ISBN 978-602-6598-26-4 tersebut, diterbitkan juga menyambut Hari Literasi Internasional atau Hari Aksara Sedunia pada 8 September mendatang.

Bila biasanya puisi berkisah tentang cinta, pengalaman hidup, alam, kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, sampai puisi-puisi yang berisikan protes dan kritik terhadap sesuatu, maka dalam kumpulan ini, puisi-puisi yang ada justru berkisah tentang puisi itu sendiri.

Bagi sang penulis, ini adalah kumpulan puisi ketiga yang diterbitkan pada tahun 2017. Sebelumnya, dari pengarang yang sama telah terbit buku kumpulan puisi Kubayangkan Chairil Anwar  (ISBN: 978-602-6598-13-4) yang diluncurkan pada peringatan Hari Buku Sedunia (World Book Day) di Rumah Dunia, Serang, Banten, Minggu, 23 April 2017. Kemudian, buku kumpulan puisi  Ahok, Kebhinekaan, Belajar Pancasila (ISBN 978-602-6598-18-9) yang terbit di Jakarta bersamaan dengan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2017.

Kumpulan puisi kali ini memang bercerita tentang puisi itu sendiri. Mulai dari menyinggung bentuk-bentuk puisi lama yang pernah ada, seperti pantun yang penuh rima dan ritma, sampai gurindam, dan angkatan-angkatan para penyair, termasuk tentu saja nama para penyair terkemuka Indonesia, semua ada dalam kumpulan puisi tersebut.

Uniknya, bila halaman sampul belakang suatu terbitan buku bacaan biasanya berisi ringkasan isi atau ungkapan-ungkapan pujian para tokoh terkenal yang telah membaca buku yang diterbitkan tersebut, maka dalam kumpulan puisi ini, halaman sampul belakangnya juga berisi puisi berjudul “Puisi Itu Adalah (Lagi)”. Sebuah puisi yang ditulis di Baku, Azerbaijan, pada 1 Agustus 2017, beberapa saat menjelang kumpulan puisi tersebut naik cetak.


TAGS puisi kumpulan puisi Jokowi Trump buku hari literasi internasional hari aksara sedunia


-

Author

Pelatih Pembina Pramuka, Kolektor Memorabilia Kepanduan/Kepramukaan, Filatelis, Penggemar Star Trek, Penggemar Kisah Petualangan Tintin

Follow Me